Latest Entries »

Seputar USM STAN 2011


hmm…tadi dapat kiriman email dari seorang kawan seputar pendaftaran USM STAN taun ini…

mungkin pengumuman resminya belum keluar di website resmi lembaga, misal http://www.depkeu.go.id, http://www.bppk.depkeu.go.id, maupun di http://www.stan.ac.id Sebenarnya tinggal menunggu waktu saja kapan pengumuman itu diposting di website resmi lembaga…

Nah, iseng-iseng aja sebenarnya saya posting di sini buat mengobati rasa penasaran teman-teman sekalian. Saya sendiri sedikit terkejut membacanya karena memang ada banyak hal yang berbeda dari pendaftaran pada tahun-tahun sebelumnya..

Oke, langsung aja monggo disimak…

1. Pendaftaran dimulai tanggal 25 Mei – 17 Juni 2011
2. Pendaftaran dilakukan secara E-Registrasi (usm.stan.ac.id)
3. Berkas pendaftaran dikirim ke PO BOX STAN, JKS 12000
4. Peserta yang lolos verifikasi berkas berhak mengikuti tahap selanjutnya
5. Melakukan pembayaran biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000,00
6. Mengambil BPU di tempat dan waktu yang telah ditetapkan
7. Peserta yang lolos tes TPA dan tes Bahasa Inggris berhak mengikuti Tes Kesehatan dan Kebugaran (bagi semua jurusan, tidak hanya Bea dan Cukai)
8. Peserta yang lolos tes kesehatan dan kebugaran berhak mengikuti Tes Psikotes.
9. Peserta yang lolos psikotes berhak melaksanakan pendaftaran ulang pada tempat dan waktu yang telah ditetapkan.

dari beberapa poin di atas cukup jelas bagi kita semua kalau memang USM tahun ini cukup berbeda dengan USM tahun-tahun sebelumnya. Oh, iya.. untuk syarat-syarat pendaftarannya mungkin nggak ada perubahan yang signifikan dari syarat pendaftaran tahun lalu..

Yach, apapun itu semoga kebijakan tahun ini bisa memberikan perubahan ke arah yang lebih baik lagi bagi kita semua. Semoga adik-adik yang tahun ini ingin mengikuti USM STAN diberikan jalan yang terbaik oleh-Nya. Amin


Mulai minggu ini, tepatnya hari Senin tanggal 14 Maret 2011, saya resmi dirolling dari seksi Pengelolaan Kekayaan Negara ke seksi Hukum dan Informasi… dari seksi yang banyak nganggur ke seksi yang PALING banyak nganggur… πŸ˜€Β  seperti itu lah penilaian awal saya ke seksi ini..hehe…

dan ternyata… ZONKSALAH BESAR saudara-saudara… Saya sepertinya harus masuk seksi Pelayanan Penilaian dulu deh buat ngasah intuisi penilai saya… >.<

dari yang semula saya sering nganggur dan kerjaan di kantor cuman buat buka fb, twitter, kaskus, ngegame, main-main ke seksi lain buat gosip ato sekedar ngopi bareng temen-temen, menjadi anak cupu yang kerjaannya sekarang di dalem seksi terus dan ga bisa sering-sering buka fb, twitter, kaskus… >.<

 

Seminggu berada di seksi ini sudah banyak kerjaan yang membuat saya merasa lebih diberdayakan (menghibur diri -_-‘) hehehe… πŸ˜€

Awal-awal rolling sebenarnya saya masih belum bisa meninggalkan seksi lama saya.. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum sempat terselesaikan di sana.. Masih ada juga satker yang datang dan mencari saya padahal sudah ada teman saya untuk menggantikan tugas saya.. Jadi saat awal-awal rolling di waktu istirahat masih sempat saya bermain-main di seksi lama saya itu. (cuman hari pertama dan kedua doank si..hhe :P)

Yach..walaupun saya sebenarnya lebih tertarik berada di seksi Pengelolaan Kekayaan Negara (banyak hal yang membuat saya begitu mencintai PKN) tapi life must go on.. (apaan sih, mulai deh lebay nya :P). Ya, saya mencoba menyukai pekerjaan baru saya, karena kalo kita menyukai suatu pekerjaan, maka pekerjaan itu tidak lagi akan terasa seperti pekerjaan.. Malah mungkin akan menjadi kebutuhan, hobi, atau apa lah namanya… Dan seminggu berada di sini, rasanya saya sudah ga ingin beranjak dari meja kerja… Rasanya banyak sekali yang belum saya ketahui tentang dunia kerja ini… Saya masih harus banyak belajar…

Sebenernya agak ngeri juga sih berada di seksi ini.. Gimana nggak, ruang kerja seksi ini ada di ujung belakang gedung kantor ini. Dan meja saya adalah yang paling belakang dari seksi ini… Dari desas-desus yang berhembus dari telinga satu ke telinga lain, ruang kerja saya termasuk salah satu spot penampakan-penampakan makhluk Tuhan selain manusia, hewan, dan tumbuhan.. agak ngeri juga.. apalagi memang kantor ini cukup terkenal dengan keangkerannya… Padahal sebelumnya di seksi PKN saya sering terpaku di depan komputer sampai tengah malam… Tuh khan jadi merinding sendiri nulisnya.. T.T

 

Kalo yang pengen tau detail rollingnya, berikut pembagian rolling anak-anak magang di KPKNL Serang (iya, tau ga penting.. :P):

-Uki: Seksi Piutang Negara -> Sub Bagian Umum πŸ˜›

-Sigit: Seksi Pelayanan Penilaian -> Seksi Pelayanan Lelang

-Wakhid: Seksi Hukum dan Informasi -> Seksi Pelayanan Lelang

-Slamet: Seksi Pengelolaan Kekayaan Negara -> Seksi Piutang Negara

-Andrian: Sub Bagian Umum -> Seksi Pengelolaan Kekayaan Negara

-Feri: Seksi Pengelolaan Kekayaan Negara -> Seksi Pelayanan Lelang

-Aziz: Seksi Pelayanan Lelang -> Seksi Pelayanan Penilaian

-Samba: Seksi Pengelolaan Kekayaan Negara -> Seksi Hukum dan Informasi

 

Dan menurut info, sepertinya tanggal 20 Juni nanti bakalan ada rolling lagi… Jadi ga sabar pengen mencoba hal-hal baru lainnya…

Seperti kata seorang kawan yang tidak mau disebut namanya,

“Di manapun itu, kapanpun itu, apapun itu… Jadikan sebagai media pembelajaran untuk lebih baik lagi ke depannya… Untuk diri sendiri,, dan orang lain…”

Patut untuk ditunggu… πŸ˜€


semalam, ada sebuah sms masuk ke ponsel usang milik saya…

 

sebuah pesan singkat dari seorang kawan yang menanyakan kapan saya akan mempublish postingan baru di blog ini..

Lah???

 

Sejenak saya jadi sedikit tertegun membaca pesan itu. Tulisan-tulisan ga mutu kayak gini kok ditanyain? Nih maksudnya nyindir apa gimana..? >.<Β  Mentang-mentang postingan di blognya jauh lebih baik dalam segi kualitas maupun kuantitasnya dibanding catatan saya di tempat sampah ini… hhuuuuuhhhh… hehe.. πŸ˜›

Well, memang saya masih belum punya ide mau nulis apa.. Keinginan buat buka dashboard blog ini pun sangat minim… Yach, mungkin memang dikarenakan masih dikejar-kejar tugas kantor yang numpuk akhir-akhir ini, juga masih harus mempersiapkan segala sesuatu untuk diklat dan workshop di Jakarta selama sebulan yang bakal di mulai beberapa hari ke depan, membuat saya susah bernafas lega dan masih belum memiliki waktu luang hanya untuk menulis sepenggal kisah hidup ini di sini… (lebay… sok sibuk banget sih gw.. bilang aja males, pake banyak alesan segala.. -_-“)

piss..Β  ^^V


Saya mendapat kalimat itu dari goresan tinta Andrea Hirata dalam novelnya, Sang Pemimpi dan Edensor. Bagi penggemar tetralogi Laskar Pelangi pasti mengetahui apa yang saya maksud. Di sana diceritakan bahwa pembalasan akibat ulah Arai kecil benar-benar terjadi belasan tahun setelah ia beranjak dewasa. Dan itu terjadi di belahan dunia yang lain. Tapi saat ini saya tidak akan membahas ataupun menulis resensi dari kedua novel itu ataupun novel tetralogi lainnya. Yang akan saya tekankan di sini adalah kalimat yang saya jadikan judul dalam tulisan ini, Tuhan tahu tapi menunggu…

 

Hari ini, saya mengalami hal itu…

Saya mendapat jawaban dari setiap lantunan doa yang saya panjatkan setelah menyelesaikan kewajiban beribadah.. Semuanya menjadi jelas sekarang…

 

Lebih dari setahun yang lalu, saat saya masih terdaftar sebagai mahasiswa di kampus tercinta, awal saya memasuki tingkat akhir perjalanan 3 tahun masa perkuliahan, sebuah pertanyaan besar selalu terngiang dalam pikiran, di instansi manakah nanti saya akan berlabuh? Ya, kegalauan tingkat tinggi hadir dalam benak ini, walaupun saya tahu bahwa apa yang saya inginkan belum tentu dapat terwujud, mengingat spesialisasi yang saya ambil penuh dengan ketidakpastian. Akhirnya, dengan segala pertimbangan, mulai dari meteri perkuliahan yang saya ambil selama 3 tahun, daerah penempatan nantinya, kemudahan dalam melanjutkan pendidikan, jenis pekerjaan, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya, saya memutuskan jika nantinya benar-benar ada pilihan penempatan, saya akan memilih untuk ditempatkan di instansi XYZ.

Mulai saat itu, dalam setiap doa saya selalu meminta supaya mendapatkan penempatan yang lancar, barokah, sesuai hati nurani, dan sesuai dengan yang diinginkan orang tua. Fyi, saya akan menerima dengan ikhlas penempatan instansi apa saja dan daerah mana saja asalkan bukan instansi ABC dan bukan di pusat. Well, alasannya simple aja, saya dari awal memang tidak sebegitu suka dengan kota Jakarta dikarenakan hidup di ibukota ini tidak hanya menguras waktu, tapi juga akan sangat menguras tenaga dan pikiran, kita semua mengetahui hal ini lah… selain itu, kenapa saya tidak suka ditempatkan di instansi ABC adalah memang entah karena jenis pekerjaannya yang kurang begitu suka, juga karena sejak tingkat 1 saya kurang begitu mampu mengerjakan mata kuliah yang berhubungan erat dengan instansi ini. (maklum, nasib ipk kemelut.. :P)

Singkat cerita, sekitar 6 bulan yang lalu pengumuman instansi pun keluar. Dan di sebelah nama saya tercantum nama DJKN sebagai instansi tempat saya bernaung. Beragam pikiran menggentayangi saya… Entah karena senang tidak berada di instansi ABC ataupun sedih karena tidak berada di instansi XYZ dan sama sekali blank tentang instansi DJKN ini. Well.. apapun itu, disyukuri saja. Mungkin Yang Maha Mengetahui dan Maha Mendengar memiliki rencana lain bagi saya.

Kita percepat lagi langkah kita… Saat ini saya telah berada di Serang, penempatan sementara saya… Semakin lama saya mengenal instansi saya, semakin saya mencintainya. Ternyata, segala yang saya inginkan dan impikan selama ini ada di sini. Mengenai detail lengkap perjalanan penempatan sementara di Serang telah saya tuliskan sebelumnya di blog ini…

Akhirnya, pagi tadi saya mendengar kabar dari salah seorang kawan yang mendapatkan penempatan di instansi XYZ. Seluruh pegawai baru mendapat penempatan di pusat. Sedikit tercengang ketika mengetahui info ini, dan yang terbayang di pikiran saya pertama kali adalah kalimat sesuai dengan judul di atas, “Tuhan tahu tapi menunggu”. Ya… saya mendapat jawaban atas doa yang selalu saya panjatkan dahulu… Akhirnya saya sadar, kenapa saya tidak mendapatkan penempatan di instansi XYZ sesuai keinginan saya dulu, semua karena Tuhan Maha Tahu.. karena Tuhan Maha Mendengar… Karena Tuhan memiliki rencana lain yang lebih indah…

 

Kawan, mungkin sering tanpa sadar kita mengeluh kenapa sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita padahal kita telah berusaha dan berdoa sekuat tenaga dan tanpa henti… Kenapa rasanya Tuhan tidak begitu adil terhadap kita… dan keluhan-keluhan lainnya…

Percayalah kawan, kita semua telah memiliki catatan kehidupan jauh sebelum alam semesta ini tercipta. Tidak sepantasnya kita menyalahkan Yang Maha Kuasa atas apa yang terjadi pada diri kita. Segala macam bentuk cobaan yang diberikan kepada kita adalah sebuah ujian yang pasti dapat kita lalui, karena Tuhan pasti tidak akan memberikan cobaan di atas kemampuan hamba-Nya.

Ingatlah kawan, Tuhan Maha Mendengar… Tuhan mendengar segalanya dan apa yang diminta oleh hamba-Nya pasti akan dibalas, entah itu langsung, ditunda, ataupun diganti dengan yang lebih baik. Teruslah berusaha dan berdoa, kawan. Mungkin sedikit cerita ini bisa membuat kita semakin bersemangat untuk terus tanpa henti berusaha dan berdoa, karena Tuhan Maha Mengetahui…

 

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan. -Andrea Hirata


Siang itu, ditemani terik matahari di atas tanah Serang, sesaat setelah keluar dari rumah makan langganan (padahal mah warteg, sok-sokan bilang rumah makan :P) saya melihat seseorang yang biasanya berlalu lalang di jalanan Serang-Cilegon Km. 3 sedang berdiam diri mematung di seberang jalan. Tidak berapa lama kemudian dia beranjak dari tempatnya dan menuju penjual gorengan di sebelahnya. Sedikit berbincang dengan tukang gorengannya, kemudian si tukang gorengan memberikan sebungkus jajanannya kepada orang itu… Dan saya terpaku di tempat saat melihat kejadian itu dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk…

 

Mungkin sekilas tampak wajar bagi kita semua saat melihat melihat proses memberi dan menerima ini, tapi saat itu entah mengapa ada dalam hati kecil saya yang berteriak melihat kejadian itu… Sedikit terenyuh melihat kebaikan si penjual gorengan yang dengan ikhlas memberikan dagangannya tanpa mendapatkan uang sepeser pun, dan kasihan melihat seseorang yang bisa dibilang kurang waras berusaha melanjutkan kehidupannya.. Ya, kurang waras, kawan… Sering saya lihat dia berlalu lalang di sekitar kantor sambil memainkan jari-jari tangannya sambil berkomat-kamit mengucap kata (atau jampi-jampi, entahlah) yang hanya dia sendiri yang mengerti maksudnya, kadang menghentikan ayunan langkah kakinya dan berdiri mematung, kadang pula hanya berjongkok merasakan udara dari 8 arah penjuru mata angin sambil tetap memainkan jari jemarinya dan berkomat-kamit mengucap mantra…

 

Beberapa hari yang lalu saya juga sempat melihatnya tertidur pulas di gang sempit yang sering saya lalui saat pulang pergi menuju kantor… Dengan pakaian hitam kumal compang-camping sebagai penutup dan pelindung tubuh dari panasnya siang dan dinginnya malam, dia tidur tanpa beralaskan apapun di tanah basah itu tanpa ada raut kesedihan di wajahnya…

Cukup menggetarkan hati saya… Sering terlintas dalam pikiran saya ketika melihatnya, di manakah keluarga orang itu..? bagaimana ceritanya dia bisa sampai di sini..? mengapa dia sering melakukan jalan mondar mandir sambil berkomat kamit..? bagaimana cara dia bisa hidup dengan cara seperti itu..? makannya..? minumnya..? dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin terlalu banyak untuk disampaikan di sini…

 

Coba bayangkan jika kita berada di posisi orang itu… Apa yang kita rasakan..?

Coba bayangkan jika salah satu keluarga kita berada di posisi orang itu… Apa yang kita rasakan..?

 

Jika menilik apa yang kita miliki saat ini, sungguh suatu kesombongan besar jika kita tidak mau bersyukur atas apa yang kita miliki itu, walaupun toh kita sebenarnya memang termasuk seseorang yang katakanlah kurang mampu secara materi… Terlepas dari segala macam harta dunia, kita masih memiliki keluarga, sahabat, teman, dan orang-orang yang memiliki cinta begitu besar kepada kita. Selain itu, coba lah lihat diri kita, kita masih bisa melihat dengan baik, mendengar dengan baik, berbicara dengan baik, dan melakukan segala macam aktivitas tanpa kekurangan apapun. Sebuah nikmat yang sering dilupakan oleh manusia, sehat. Untuk urusan duniawi, saya percaya, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa bersyukur terhadap apa yang kita miliki jika kita selalu melihat ke atas. Kadang kita juga perlu melihat ke bawah, masih banyak yang jauh kurang beruntung daripada kita… Selama kita belum bisa bersyukur, saya yakin sekaya dan seberuntung apapun, kita akan selalu merasa kurang dan kurang…

 

beberapa saat yang lalu saya sempat menemukan beberapa pict yang mungkin cocok dengan tema tulisan ini..

 

 

Masih banyak orang-orang seperti ini.. Lihatlah sekeliling kalian.. Anak-anak jalanan, pengemis, yang cacat, yang kelaparan…Mereka berjuang untuk hidup setiap harinya dan mereka tidak bisa mengeluh…

Belajarlah untuk tidak mengeluh.. Jika kita suka mengeluh, maka segala sesuatu akan terasa sulit…

Bukalah mata hati kita, maka kita akan melihat sisi kehidupan yang indah yang selama ini tidak tampak…

Bantulah dirimu dengan menjalani hidup yang penuh semangat dan bercita-cita untuk membantu sesama…

Bantulah orang lain sebisa mungkin, karena hanya dengan demikian kita baru bisa merasakan kebahagiaan…

 

Apapun itu jenisnya, berapapun itu jumlahnya, disyukuri saja… Karena dengan bersyukur kita pasti bisa lebih menikmatinya… πŸ™‚


Entah dari mana saya mendapatkan kata-kata itu, yang jelas, judul di atas memang benar menurut saya…

Beberapa hari ini entah kenapa saya merasa tidak memiliki selera untuk melakukan apapun… Mau makan susah, mau tidur pun susah.. Ada beberapa hal yang terjadi hampir bersamaan sehingga membuat saya jadi aneh seperti ini, salah satunya mungkin karena cerita dari salah seorang sahabat dalam blog dan kiriman emailnya…

Mungkin karena satu dan lain hal, ada yang membuat hubungan saya bersama sahabat itu harus dikurangi intensitasnya… walaupun itu bukan berarti sudah terputus sepenuhnya.. demi kebaikan bersama…

Sakit sebenarnya apa yang terasa dalam hati ini… Mengingat setiap momen yang telah kami lalui bersama…

Dalam kehampaan, saya membuka-buka email lama..

tanpa sengaja saya menemukan sebuah email yang cukup menarik.. mungkin juga karena sesuai dengan tema dan isi dalam hati saat ini…

 

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya.

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan,didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain,tetapi justru ia beriinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

 

Renungkan:

Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.

β€œDalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita.” – Anonim –

Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda ?? Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai?? Siapa yang ingin bersama anda pada saat tiada satu pun yang dapat anda berikan ??

Merekalah sahabat-sahabat anda…


Ya, saya pribadi lebih baik kehilangan cinta daripada kehilangan seorang sahabat… Suatu pernyataan yang mungkin berbeda antar personal…

Melupakan seseorang yg telah memberimu banyak kenangan indah adalah hal yg sangat sulit. Tapi jika itu yg terbaik, relakanlah…

down to earth


hmmm….

sore ini saya membaca status akun facebook seorang kawan yang bunyinya, “lebih baik diam dan kelihatan bodoh, daripada berbicara dan bodohnya kelihatan.”

sebenernya sudah sejak lama saya ingin menulis tentang hal ini…

ya, pernyataan seorang kawan itu sangat benar adanya kawan…

sungguh elegan menurut saya jika kita mampu menjadi seorang pribadi yang mencerminkan pernyataan tersebut. Sungguh rendah hati sekali.. dan sangat berkualitas, menurut saya…

Mungkin memang sudah sifat dasar manusia untuk menyombongkan diri di hadapan orang lain… Tapi bukankah rendah hati itu jauh lebih baik, kawan…?

Mungkin memang sakit rasanya diremehkan oleh orang lain karena kita masih “belum cukup umur” dan dianggap belum memiliki kemampuan seperti yang diinginkan, tapi percayalah kawan, ketika kita dianggap tidak ada, dan ternyata pada saat yang tepat kita mampu membuktikan di depan orang itu bahwa sebenarnya anggapan mereka itu salah besar, rasa kepuasan yang kita dapat pasti jauh lebih besar daripada ketika kita telah benar-benar dianggap mumpuni sebelumnya dalam bidang itu.

Kawan, untuk apa sih kita memuaskan keinginan kita untuk menyombongkan apa yang kita miliki…? untuk menyombongkan apa yang kita kuasai..? atau bahkan untuk menyombongkan apa yang sebenarnya tidak kita miliki dan tidak pula kita kuasai..? Ingatlah kawan, sesungguhnya kita ini kecil… sangatlah kecil di mata Yang Maha Menguasai Alam Semesta ini… Sudah sepantasnya kita tidak menyombongkan secuil pun dari yang kita miliki… Ingatlah bahwa di atas langit itu masih ada langit… Janganlah menjadi katak dalam tempurung, kawan… Orang lain pasti akan merasa lebih respect terhadap orang yang rendah hati daripada orang yang menyombongkan diri… Saya yakin kita semua berpikiran sama…

Rendah hati itu indah, kawan…

Mungkin memang benar ada pepatah yang mengatakan diam itu emas… Ya, karena dengan diam kita tidak akan berkoar-koar tentang apa yang kita miliki… karena dengan diam kita terjaga dari ucapan-ucapan dusta… karena dengan diam kita dapat menjadi pendengar dan pemerhati yang baik sehingga dapat lebih bijak dalam menanggapi suatu masalah… karena dengan diam kita akan terlihat lebih berwibawa… karena dengan diam….

tentunya diam dalam hal yang positif dan sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat, sehingga kita tidak terkesan sombong di hadapan orang lain…

 

Untuk adik-adikku,

Kalau kita diremehkan dan dihina, alangkah indahnya kita balas dengan sebuah senyuman termanis.. dan pada saat yang tepat, mari kita buktikan kemampuan kita yang sebenarnya… jangan justru dibalas dengan hinaan.. karena dengan balasan kita itu, justru membuktikan kalau kita sebenarnya memang tidak memiliki kapabiliti… Kita akan terlihat semakin rendah di mata mereka…

Kita bukan berasal dari keluarga yang kaya, bukan masalah khan kalau kita berpakaian ala kadarnya..? bukan masalah khan kalau kita berangkat sekolah dengan berjalan kaki…? bukan masalah khan kalau kita sekolah tanpa uang saku…? bukan masalah khan kita memiliki rumah sederhana di perbatasan kota…?

Kita bukan berasal dari keluarga ilmuwan, bukan masalah khan kalau kita tidak dianggap pintar…? bukan masalah khan kalau kita tidak dianggap memiliki kelebihan…?

Semua kata orang, apapun itu, hadapi dengan senyuman… jadikan itu semua sebagai pemacu kita untuk jauh lebih baik lagi.. Saya percaya, kalian bisa lebih baik… Jauh lebih baik dari kakak kalian ini…

Yang jelas, tetap rendah hati… tetap down to earth… Karena dengan rendah hati, aura kalian akan bersinar jauh lebih terang…

mimpi-mimpiku…


“bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu…” -Arai

ya, saya punya mimpi…

ga muluk-muluk kok… saya sadar akan kemampuan dan status saya sendiri…

suatu saat nanti, saya ingin memiliki seorang pendamping hidup yang mampu mengerti apa adanya saya… bukan karena pekerjaan saya, bukan karena bentuk fisik saya, bukan karena keluarga saya…

karena saya sadar, saya belum tentu tetap pada pekerjaan saya…

karena saya sadar, suatu saat nanti fisik saya akan berubah seiring semakin menuanya usia…

karena saya sadar, keluarga saya suatu saat nanti ketika telah sampai masanya juga akan meninggalkan saya…

seorang pendamping hidup yang mau hidup nomaden, berpindah-pindah antara satu tempat ke tempat lainnya,,,

seorang pendamping hidup yang mau hidup dengan segala kekurangan saya….

seorang pendamping hidup yang mau hidup dalam kesederhanaan saya…

 

saya belum memikirkan ingin memiliki berapa buah hati nantinya…

yang jelas, saya ingin anak-anak saya kelak, memiliki jiwa seperti kedua orang tuanya… seperti paman-bibinya… seperti kakek-neneknya…

saya ingin mendidik anak-anak saya kelak seperti ketika saya dididik oleh kedua orang tua saya dahulu…

saya ingin mereka memiliki sifat rendah hati… tidak sombong terhadap apa yang mereka miliki… karena semua yang mereka miliki itu hanya lah suatu titipan…

saya ingin mereka memiliki ilmu dunia dan akhirat… sehingga mereka mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, sehingga nantinya mereka mampu membawa diri mereka di manapun mereka berada…

saya ingin mereka memiliki jiwa perasa yang kuat… yang tidak acuh terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka…

saya ingin mereka…

terlalu banyak yang ingin saya ucapkan ketika bercerita mengenai mimpi-mimpi masa depan bersama buah hati tercinta….

 

suatu saat nanti, ketika saya diizinkan memiliki sebuah rumah, saya tidak ingin memiliki rumah mewah di kawasan perumahan elit dengan segala macam kelengkapan perabot di dalamnya… saya tidak menginginkan itu… yang saya inginkan, saya memiliki sebuah rumah sederhana, yang cukup untuk menampung seluruh keluarga, dengan halaman yang cukup lapang dan asri, tetangga-tetangga yang ramah, udara yang sejuk, dan jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat ibadah…

cukup itu saja…

karena saya rasa, hidup dalam kerendahan hati dan kesederhanaan itu begitu indah…



setelah beberapa hari disibukkan pekerjaan yang semakin lama semakin menumpuk, yang juga sepertinya tanpa batas T.T, akhirnya ada juga waktu untuk sedikit mencurahkan isi hati dan pikiran dalam blog ini… πŸ˜€

sebenarnya masih bingung nih mau nulis apaan dalam kesempatan kali ini… bener-bener ga ada ide mau di bawa ke mana catatan ini…

mungkin karena memang sedang berada di tengah-tengah titik jenuh di antara rutinitas pekerjaan yang seakan tanpa henti terus datang bergelombang, atau mungkin juga karena kondisi badan yang semakin lama semakin menurun tanpa adanya tanda-tanda kembali ke kondisi semula, atau mungkin juga karena main game yang selalu kalah akhir-akhir ini.. :hammer

yah..apapun itu, membuat saya akhir-akhir ini terasa mudah sensi dalam ngadepin suatu masalah… mungkin dari luar tidak begitu terlihat, tapi diri saya pribadi merasa mudah sekali ga suka dengan sikap dan perbuatan orang lain maupun sikap dan perbuatan diri sendiri, walaupun sebenarnya dalam kondisi normal saya ga pernah mempermasalahkannya… so sensitive…

fyi, sambil nulis blog ini saya juga sedang chat dengan seorang kawan di akun facebook saya…

dan mungkin salah satu bahasan dalam topik chat ini cukup sensitif menurut saya, atau mungkin biasa saja jika saya dalam kondisi normal… Yak, mungkin biasa saja….

Saya sejak kecil, sejak SD mungkin, sudah biasa dengan apa yang dinamakan jodoh-jodohan, comblang-comblangan, atau apapun itu namanya… Saya sama sekali ga pernah menganggap itu semua hal yang serius, kawan… hanya sebuah guyonan dan candaan saja… dan saya harap begitu.. tidak kurang dan tidak lebih…

Saya pribadi selalu dan selalu berharap, dengan adanya guyonan dan candaan itu, hubungan kami semua dapat semakin rekat, semakin dekat, semakin akrab… hampir selama 22 tahun saya bernafas di dunia ini, belum pernah saya sekalipun memiliki maksud terselubung dalam candaan tersebut… seperti memang benar-benar pengen dicomblangin atau apalah itu… sama sekali tidak ada niat seperti itu sedikitpun, kawan…

mungkin kalau memang ada kawan yang mempertanyakan kenapa saya bersikap seperti itu, seperti ini…? karena itu semua saya lakukan alamiah… itulah saya.. inilah saya…

back 2 topic, yak seperti biasa saya dengan tragisnya mendapat suatu kehormatan dicomblangin dengan salah seorang kawan dekat….

well… sebenarnya ga masalah juga si… mungkin karena sudah saking biasanya dicomblangin yak… saya pun bertingkah seperti biasa, tetap dekat dengan dia, tetap bercanda dengan dia, tetap berkomunikasi dengan dia, dan tetap yang lain-lain… ga ada yang berubah sama sekali…Β  kalau untuk perasaannya, saya sama sekali ga tau dan ga mau tau… karena saya memang ga mau tau apa yang bukan menjadi hak saya untuk diketahui…

dan dalam chat ini, sekali lagi saya diberi suatu pertanyaan tentang hubungan saya dengan kawan saya tersebut… saya yakin, sekeras apapun saya menjawab tidak, pasti akan percuma… karena pasti akan ada penyangkalan A, penyangkalan B, penyangkalan C, dan seterusnya…

saya ga tau apa yang dikatakan oleh orang lain di luar sana, yang jelas, untuk masalah yang orang sebut dengan kata “cinta”, biarkan saya menjadi diri saya sendiri…

saya ga terlalu memusingkan “kata” itu, karena bagi saya jodoh sudah ada yang mengatur…

sekeras apapun kita berjuang untuk mendapatkan seseorang, akan percuma jika memang dia bukan takdir kita… tapi tentunya hal itu bukan tanpa usaha juga…

walaupun saya jauh-jauh ke roma untuk mencari jodoh di sana, kalau jodoh saya ternyata orang tangerang, saya pasti akan balik lagi ke tangerang untuk menemuinya khan.. πŸ™‚

Let it flow guys…

jangan sampai karena masalah “cinta”, hidup kita sampai kacau… masa depan kita taruhannya…. keinginan dan cita-cita orang tua kita taruhannya…


fiuuuhhhh…

hari yang luar biasa, kawan…

sosialisasi yang diadakan oleh Pengadilan Tinggi Agama Banten di salah satu hotel di kawasan Anyer hari ini memberikan saya banyak hal baru dalam dunia ini, membuat saya merasa benar-benar kecil, lemah, rapuh, dan nothing di dunia ini… Sudah memang sepantasnya saya tidak boleh menyombongkan diri dengan segala yang tidak saya miliki dan ketidak mampuan saya…

Bagaimana tidak, selama acara sosialisasi ini saya mendapat begitu banyak ilmu dan pengalaman yang dapat saya ambil. Bayangkan saja, kegiatan sebagai asisten moderator yang sangat saya sukai di setiap presentasi masa-masa sekolah dan kuliah dulu, yang kelihatan sangat santai dan sepele, ternyata mampu membuat jantung saya berdegup tidak seperti biasa… Padahal semasa kuliah dulu, saya selalu ingin menjadi asisten moderator yang hanya bertugas untuk mengganti tampilan slide power point dan memudahkan moderator untuk meyampaikan materi, sedangkan hari ini, di depan pejabat eselon 5 dan 4 PTA Banten, perasaan ragu dan bimbang itu masih menggelayuti hati ini. Well, mungkin juga hal ini dikarenakan karena saya memang sama sekali buta akan materi yang akan disampaikan dan saya juga tidak tahu mau di bawa ke mana slide ini. Satu lagi pelajaran hidup yang dapat saya ambil di sini, “apapun itu, informasi dan pengetahuan sangatlah penting adanya. Walaupun kita tidak berkepentingan terhadap suatu masalah, janganlah kita sama sekali tidak menghiraukan apa yang ada di sekitar kita. Mari kita melihat, mendengar, merasakan… Dan jika perlu, sedikit bertanya juga tidak salah adanya. Sehingga, jika suatu waktu, terdapat hal extraordinary yang terjadi, kita sudah siap menghadapinya, walaupun tidak 100%, minimal kita tidak 0%”.


Selain itu, saya juga mendapat satu hikmah yang membuat keinginan saya untuk membeli kamera semakin besar. Saya sadar bahwa kemampuan fotografi saya sangat minim, atau bahkan tidak memiliki kemampuan sama sekali. Kebetulan hari ini saya berkesempatan memegang kamera kantor. Setelah beberapa kali jepret sana jepret sini dan melihat hasil yang ada, saya hanya mampu mengucap istighfar melihat hasil jepretan saya tadi. Saya semakin sadar, bahwa dalam hidup ini kita membutuhkan suatu keahlian, suatu softskill… dan ternyata saya memang tidak memiliki keahlian satupun… sungguh menyedihkan… T.T

Ditemani sunset di tepi pantai Anyer, tenang dan damai sekali rasanya memandang hamparan air pasang tanpa batas dan jingganya langit petang di salah satu belahan dunia ini. Takjub saya melihatnya. Betapa Yang Maha Kuasa begitu Agung menciptakan alam semesta ini beserta isinya. Di tepi pantai ini saya merasa kecil, sangat kecil… apalagi dibanding luasnya dunia ini, dibanding luasnya alam semesta ini. Sudah sepantasnya sifat-sifat sombong dan tinggi hati tidak melekat pada diri kita. Sudah sepantasnya kita mensyukuri atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Sudah sepantasnya….

Di antara beberapa pelajaran yang dapat saya ambil selama acara ini berlangsung, mungkin pelajaran berharga lainnya paling banyak saya dapatkan ketika saya berbagi pengalaman terhadap orang-orang yang lebih banyak makan garam daripada saya. Dari sekedar bertukar pikiran bersama mereka, saya bisa mengetahui jauh lebih banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui. Ingat kawan, seorang pemenang sejati itu tidak hanya belajar dari pengalaman dirinya sendiri, tapi juga belajar dari pengalaman orang lain.

Dari sharing itu, saya jadi semakin mantab dalam pekerjaan ini… Mungkin iya saya tidak menjadi anggota BPK sebagai auditor pemerintah yang dapat mengkoreksi laporan keuangan dan kinerja satker, tapi di pekerjaan ini saya dapat membantu satker mengkoreksi dan membenarkan laporan keuangan dan kinerja mereka, serta membantu menjaga asset-asset milik negara yang selama ini belum pernah terurus dengan layak, sehingga tidak terdapat lagi temuan dari BPK, suatu pekerjaan yang sangat mulia menurut saya…

Selain itu, dari sharing dan berbagi pengalaman pula saya semakin bangga terhadap angkatan bersenjata kita… di tengah minimnya dana anggaran untuk kesejahteraan mereka, mereka masih tetap berada di koridor mereka sendiri dengan jalan mereka sendiri dalam membela dan menjaga negeri ini.. Suatu hal yang sudah sangat jarang ada pada diri para PNS dan anggota dewan kita yang terhormat itu…

Lebih daripada itu, saya menyadari, sebenarnya jika kita mau lebih teliti melihat, mendengar, dan merasakan segala yang terjadi di sekitar kita, akan dapat kita temukan banyak sekali pelajaran hidup demi kebaikan kita, mungkin saja kita kurang menyadarinya, sehingga hal-hal itu terlihat biasa dan hanya berlalu begitu saja…

Jadi, mari kawan, kita lebih membuka mata, mendengar lebih banyak, dan sensitif merasakan segala hal yang ada di sekitar kita…

demi kita, dan demi orang lain…

Semoga bermanfaat